Sang Penegak Rumah di Puncak Suluun Tareran TALAITAD.
1. Awal dari kabut dan kayu.
Konon, pada masa ketika burung manguni masih terbang rendah di lembah, dan sungai, Talaitad baru mulai berkembang, hiduplah seorang lelaki muda bernama Mantewo.
Ia dikenal karena tangannya lihai memilih kayu, dan hatinya tenang seperti air kolam.
Setiap rumah yang ia bangun berdiri tegak, bahkan ketika badai datang dari arah Suluun.
Suatu hari, kepala wanua (kampung adat) bernama Fredric Waney memintanya membangun rumah kediamannya dan untuk pertemuan para tua-tua.
Namun tanah di puncak bukit itu labil — setiap tiang yang ditancapkan selalu miring dan roboh.
Selama tujuh hari mereka mencoba, dan selama tujuh hari pula semua kayu rebah seperti lelah.
Mantewo kemudian duduk di bawah pohon woka, menatap gunung dan berdoa.
Ia berkata,
> “Tuhan, beri aku tangan yang tak hanya kuat, tapi juga hati yang benar,
agar rumah ini berdiri bukan karena kayu — melainkan karena kasih.”
Pada malam ketujuh, angin lembut membawa suara dari kabut:
> “Selama engkau menegakkan rumah dengan hati yang jujur, namamu akan dikenang selamanya.”
Keesokan harinya, Mantewo menancapkan tiang utama dan berkata dalam bahasa tua,
> “Po mantow!” — yang berarti “Mari kita tegakkan!”
Dan ajaib, rumah itu berdiri tegak, seimbang, dan tak pernah goyah.
---
2. Nama yang menjadi warisan
Sejak hari itu, orang-orang kampung tidak lagi memanggilnya Mantewo.
Mereka memanggilnya Pomantow, sang penegak rumah.
Nama itu menjadi sebutan kehormatan bagi dirinya dan keturunannya — tanda bagi mereka yang membangun, menjaga, dan menegakkan.
Anak-anaknya mewarisi keahliannya: ada yang pandai membuat ukiran, ada yang membangun rumah ibadah, dan ada pula yang menegakkan keadilan di antara sesama.
Dari tangan-tangan itulah desa Talaitad mulai ramai — rumah-rumah panggung berdiri, jalan dibuka, dan kebun ditanami.
Dan setiap kali ada rumah baru dibangun, orang-orang selalu berseru:
> “Torang pangge Pomantow bekeng tu rumah — supaya rumah badiri kuat kong nyandak miring!”
---
3. Warisan di Tanah Talaitad
Ratusan tahun kemudian, Talaitad tumbuh menjadi desa di puncak yang dikelilingi kabut, angin, dan doa.
Keluarga Pomantow menjadi salah satu tiang utama kehidupan masyarakat — bukan hanya mengenai kayu dan bangunan, tetapi juga dalam hal iman, kerja keras, dan persaudaraan.
Orang tua mereka selalu mengingatkan:
> “Jadi Pomantow bukan cuma nama. Itu tugas.
Kalau orang lain jatuh, torang bantu tegakkan.
Kalau rumah orang roboh, torang bantu dirikan.
Kalau hati orang lemah, torang kuatkan.”
---
4. Pesan dari Leluhur Pomantow
Kini, di setiap pagi yang berkabut di Talaitad, jika angin bertiup dari lembah, orang tua-tua berkata:
> “Itu napas Pomantow yang lama — masih menjaga desa, masih menegakkan rumah, masih menyapa anak cucunya.”
Dan bagi setiap keturunan Pomantow, dari Talaitad hingga ke mana pun mereka pergi, legenda ini selalu diingat:
> “Torang anak keturunan Pomantow — penegak rumah, penjaga tanah, dan pewaris keteguhan.”
(Cerita ini mungkin hanyalah fiktif, karena dikembangkan dari nama tokoh yang mungkin bukan nama yang sebenarnya.
Silahkan di koreksi untuk mendapatkan pengetahuan tentang Pomantow yang sebenarnya).
---
#TALAITAD_2025
#Roy Pomantow
#TALAITAD_2025
#Roy_Pomantow

Tidak ada komentar:
Posting Komentar