Jumat, 24 Oktober 2025

CAHAYA TERANG - SULUUN

 SEJARAH DESA SULUUN – “CAHAYA YANG TERANG”.

(Versi: Roy Pomantow – TALAITAD SULTA 2025)


---

1. Awal Mula: Hutan Rimba yang Sunyi

Pada mulanya, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Suluun, Kecamatan Suluun–Tareran, Kabupaten Minahasa Selatan, merupakan hutan rimba lebat yang belum berpenghuni. 

PETA SULUUN

Berdirinya Desa Suluun tidak terlepas dari kegiatan berburu yang dilakukan oleh penduduk Minahasa zaman dahulu untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Para pemburu ini datang dari Walak Tounkimbut Bawah (Sonder) untuk mencari hewan buruan seperti ayam hutan, babi hutan, dan anoa yang banyak hidup di kawasan tersebut.


---

2. Dari Perburuan ke Permukiman.

Seiring waktu, binatang buruan semakin sulit ditemukan.

Jika dulu berburu hanya memerlukan satu atau dua hari, kini mereka membutuhkan berhari-hari di dalam hutan. Karena itu, para pemburu mulai mendirikan tempat tinggal sementara di tengah hutan untuk beristirahat.

Kebiasaan menetap ini menjadi awal mula tumbuhnya pemukiman kecil di wilayah hutan yang kini disebut Suluun.


---

3. Tiga Dotu dari Sonder.

Pada suatu hari datanglah tiga orang pemburu dari Tounkimbut Bawah (Sonder), yaitu:


Dotu Koyansow

Dotu Mononutu

Dotu Palar


Mereka menetap lebih lama di daerah tersebut setelah melihat tanah yang subur, dataran yang luas, serta mata air jernih di perbukitan selatan Tareran.

Pada malam bulan purnama, mereka mendengar bunyi burung Manguni yang dipercaya sebagai tanda baik. Dalam terang bulan itu, mereka bersepakat untuk menetap dan bercocok tanam.


---

4. Asal Usul Nama “Suluun”.

Nama Suluun berasal dari bahasa Tountemboan, gabungan dari dua kata:


“Suluh” = serap

“Un” = terang


Sehingga arti keseluruhannya adalah “Serap Terang” atau “Cahaya yang Terang.”

Nama ini diambil untuk mengenang malam purnama ketika ketiga Dotu bersepakat menetap di tempat itu.


---

5. Awal Pemukiman dan Tonaas Pertama.

Tak lama kemudian, beberapa penduduk dari Desa Pinapalangkow datang berburu dan bercocok tanam (mento dan memasang dodeso).

Mereka akhirnya ikut menetap di sekitar kediaman ketiga Dotu.

Karena pengaruh dan kearifan mereka, ketiga Dotu itu diangkat sebagai Tonaas (pemimpin adat).

Dan ketika pemukiman semakin besar, dibentuklah sebuah ro’ong (desa) dengan Tonaas Mononutu sebagai Pamatuan (Hukum Tua) pertama.

Desa Suluun diperkirakan berdiri sekitar tahun 1700-an.


---

6. Masa Pemerintahan Hindia Belanda

Pada masa penjajahan Belanda, Desa Suluun masuk dalam wilayah Walak Sonder (Tounkimbut Bawah).

Sekitar tahun 1841, Injil pertama kali masuk ke Suluun, membawa perubahan besar dalam kehidupan rohani masyarakat.

Hingga masa kemerdekaan, Suluun masih termasuk dalam wilayah pelayanan Klasis Sonder.


---

7. Dari Permesta ke Kecamatan Tareran

Setelah berakhirnya Pergolakan Permesta, Suluun masuk ke dalam daerah pelayanan Tareran.

Dan ketika Kecamatan Tareran berdiri pada Februari 1961, Desa Suluun resmi menjadi bagian dari kecamatan tersebut bersama desa-desa lainnya:

Pinapalangkow, Kapoya, Talaitad, Pinamorongan, Wuwuk, Kaneyan, Koreng, Tumaluntung, Rumoong Atas, Lansot, dan Wiau Lapi.


---

8. Pemekaran Pertama: 1978

Pada masa kepemimpinan Hukum Tua Bapak B. Lumempouw, tepat pada 14 Februari 1978, Desa Suluun dimekarkan menjadi dua desa:

Suluun Satu (bagian timur)

Suluun Dua (bagian barat)


Uniknya, kedua desa ini berhasil mendirikan dua Balai Desa megah, yang dikenal sebagai Bangunan Balai Desa terbesar di Indonesia pada waktu itu.

Bangunan ini dibangun secara swadaya masyarakat berkat hasil panen cengkih yang melimpah, dan hingga kini masih berdiri kokoh sebagai pusat kegiatan masyarakat dan pemerintahan.


---

9. Pemekaran Kedua: 2007.

Pada masa Reformasi, tepatnya 14 Februari 2007, Desa Suluun kembali dimekarkan:

Suluun 1 dimekarkan menjadi Suluun 1 dan Suluun 3

Suluun 2 dimekarkan menjadi Suluun 2 dan Suluun 4


Seiring pemekaran tersebut, dibentuklah Kecamatan Suluun–Tareran sebagai hasil pemekaran dari Kecamatan Tareran.

Kecamatan baru ini meliputi:

Desa Suluun 1, 2, 3, 4, Talaitad dan Talaitad Utara, Pinapalangkow, dan Kapoya dan Kapoya satu (dimekarkan pada tahun 2012).

---

10. Warisan dan Identitas.

Kini, Suluun tidak hanya dikenal sebagai tempat lahirnya cahaya terang dalam arti harfiah, tetapi juga simbol kebersamaan, kerja keras, dan berkat Tuhan.

Dari hutan sunyi menjadi pusat pemerintahan baru — Suluun–Tareran berdiri sebagai saksi perjalanan panjang masyarakatnya yang penuh iman dan semangat gotong royong.


---

#TALAITADSULTA2025

Disusun oleh: Roy Pomantow

Tidak ada komentar:

Posting Komentar